JAMALI ,16, bener-bener gila. Dalam usia ABG sudah hobi “the butterfly of night”. Tapi di kompleks WTS Sunan Kuning Semarang, ulahnya jadi urusan polisi. Masalahnya, dia tega mencekik mati WTS Murindah, 23, gara-gara mau nambah ditolak. “Duit sudah habis, tapi saya belum puas,” kata Jamali pada polisi.

Di era gombalisasi ini, anak-anak begitu bebas lihat internet lewat HP. Padahal tak semua sajian di jagad maya itu bernilai positip bagi anak-anak. Video biru, banyak ditemukan di sini, dan itu paling demen ditonton kalangan ABG. Padahal jika kadung spanengnya naik sampai 230 volt karena dekat gardu, bingung mencari penyaluran. Yang punya pacar, banyak yang kemudian “ngebon” dulu. Yang tak punya?

Jamali ABG asal Ngaliyan, Semarang Barat, rupanya termasuk ABG yang “kebingungan” tersebut. Tapi karena pendidikannya hanya alumnus SD, dia berpikir praktis saja. Tak ada rotan akar pun berguna, begitu kata pepatah. Tapi bagi Jamali, tafsirnya adalah: tak ada istri atau pacar, kan masih ada kaum “the butterfly of night”. Dan di kompleks Sunan Kuning, stoknya melimpah, sampai Lebaran pun tetap aman.

Mulailah Jamali “uji nyali” di Sunan Kuning. Awalnya dia hanya ditertawakan kalangan WTS, wong kencing saja belum lempeng kok main ke sini-sini. Tapi begitu ABG itu menunjukkan “logistik”-nya lima puluhan ribu beberapa lembar, WTS pun mulai percaya. Soalnya logistik coblosan Pemilu dengan “coblosan” di Sunan Kuning memang beda. Bila di Pemilu butuh bertriliun-triliun, di Sunan Kuning Rp 200.000,- pun bisa ditarik Bleh……

Tak diketahui jelas dari mana “logistik” Jamali ini diperoleh, karena dari manapun sumbernya dia tak perlu lapor ke KPU segala. Mungkin dari hasilnya jadi kuli bangunan, bisa juga jadi tukang parkir yang hanya modal mulut ngomong: kiri, kiri, balas…..hop! Yang pasti, dia sudah dapat rekanan namanya Murindah, yang mur-nya mungkin sangat indah.

Berapa kali kencan dengan Murindah, tak diketahui pasti. Bulan lalu dia sudah kencani Murindah dengan tarif Rp 200.000,- bebas PPN. Tapi pelayanannya waktu itu tidak all out, dengan alasan capek. Malah terkesan Murindah melayani tidak ekhlas, karena mengadopsi motto pemerintahan SBY-JK dulu: lebih cepat lebih baik!

Eh pertengahan September kok Jamali kepengin lagi. Padahal logistiknya minim sekali, hanya Rp 100.000,- Bagaimana akal? Tapi Jamali memang selalu optimis menjalani hidup. Dengan dana yang hanya cukup untuk beli cabe dan bawang saja sebagaimana kata emak-emak di Medan, berangkatlah dia ke medan pergoyangan.

Karena sudah langganan, tanpa ditanyakan berapa logistiknya langsung saja naik ring. Tapi ternyata, baru ronde pertama Jamali sudah KO. Paling aneh, duitnya hanya Rp 100.000,- kok minta nambah. Tentu saja ditolak Murindah, malah dia maksa kekuranganya harus segera dibayar. Ributlah keduanya, masak sama pelanggan kok tak ngutang. Sama-sama ngeyel, Murindah mencakar Jamali. Tapi si ABG hidung belang itu langsung membalasnya dengan cekikan.

Sepuluh menit kemudian Murindah mati lemas dan Jamali pun kabur. Tapi berdasarkan saksi mata, hari berikutnya jejak ABG dari Ngaliyan itu terlacak dan ditangkap. Dalam pemeriksaan ditanya pula kenapa mayat Murindah disiram olie bekas segala? Katanya sekedar untuk menghilangkan jejak.

Hilangkan jejak kok pakai olie, kepleset itu mah! (SM.Com/Gunarso TS)