NASIRUN, 25, memang pedenya luar biasa. Jadi pegawai di pemkab masih tenaga honorer, tapi sudah berani tunjukkan “tenaga kuda”-nya pada gadis ABG Nanik, 16. Akibat ulahnya ini, peluang untuk diangkat PNS menjadi makin jauh. Sebab polisi langsung menangkapnya, dan tak lama lagi bakal  jadi napi.

Kini banyak tenaga honorer yang digantung pemerintah, dalam arti tak kunjung diangkat jadi PNS. Lebih-lebih di kalangan dunia pendidikan, banyak guru jenis KW-2, yang susah diangkat karena tak memenuhi syarat. Padahal mereka jadi guru ada yang sudah 20 tahun dengan honor Rp 350.000,- sebulan.

Menjadi tenaga honorer di Pemkab Barito Selatan, nasib Nasirun tak separah guru honorer. Gajinya jauh lebih banyak ketimbang yang jadi guru honorer. Namun demikian untuk hidup sangat pas-pasan sebagaimana sinyalemen Capres Prabowo. Mau beli baju, duitnya pas tidak cukup, mau beli motor pas duitnya belum ngumpul. Jadi pas tidak punya melulu.

Tapi meski tak punya uang cukup, anak muda ini punya nyali gede. Dia berani memacari Nanik, tetangganya di  Buntok, Kalimantan Tengah. Tapi  karena disesuaikan dengan PAD-nya, paling kalau ditraktir makan hanyalah  bakso atau minum es degan. Hidup Nasirun memang pas-pasan.

Sekian lama pacaran dengan Nanik si Nasirun merasakan bahwa gadis ABG itu sudah jinak. Ibarat burung, sudah bisa ditangkap dan dimasukkan sarang. Maka Nasirun pun ingin menunjukkan keperkasaannya sebagai lelaki. Pas dia main ke rumahnya yang sedang sepi, gadis ABG itu dirayu untuk mau diajak hubungan intim sebagaimana layaknya suami istri.

Tapi ternyata Nanik menolak, maklum pendidikan agamanya dia sangat kuat. Enak saja, belum suami istri kok sudah mau ngebon duluan. Nggak boleh! Nah, kuat sama kuat, yang satu kuat nafsunya, yang satu kuat keyakinannya. Nasirun yak tak mau buruannya lepas, langsung saja Nanik disergap dan ditelanjangi, sehingga skor menjadi 1-0.

Tenaga honorer itu merasa lega karena telah berhasil menunjukkan tenaga kudanya. Tapi kepuasan batin itu tak berlangsung lama. Sebab Nanik ternyata melapor pada orangtuanya dan diteruskan ke polisi. Tak ayal lagi Nasirun ditangkap. “Saya pikir dia mau Pak, ternyata menolak. Kepalang basah jadinya…..” kata Nasirun pada polisi.

Kepalang basah ya mestinya dilap pakai handuk. (Gunarso TS)